Berdamai dengan Doktrin Masa Lalu “Uang Itu Sulit!”
Sejak kecil, saya selalu mendengar orang tua saya mengatakan, “Ayah nggak punya uang. Uang itu sulit dicari.” Kata-kata itu terus terngiang dan tanpa saya sadari menjadi doktrin dalam pikiran saya. Akibatnya, hidup saya seperti mengikuti pola tersebut. Saya bekerja keras menjual sembako, namun pendapatan saya selalu kalah dengan pengeluaran. Setiap bulan saya harus berhutang untuk menutupi kekurangan, dan siklus ini terus berulang selama bertahun-tahun.
Hingga suatu hari, saya bertemu dengan Ibu Evi Puspa. Ia menyarankan saya untuk menjalani hipnoterapi guna menetralisir doktrin-doktrin keliru yang telah tertanam di pikiran bawah sadar saya sejak kecil. Awalnya, saya ragu. Dalam hati, saya bertanya-tanya, “Apakah masalah seperti ini bisa diselesaikan dengan hipnoterapi?”
Dengan keberanian yang setengah-setengah, saya akhirnya mengatur jadwal dan mendatangi klinik hipnoterapi Evi Puspa di Cibubur. Ketika bertemu Ibu Evi Puspa, keraguan saya sedikit demi sedikit menghilang. Sambutannya yang ramah dan cara ia berbicara membuat saya merasa nyaman dan seolah mendapat teman baru. Obrolan kami mengalir dengan santai, sehingga saya merasa siap untuk menjalani proses hipnoterapi.
Saat sesi berlangsung, Ibu Evi Puspa membimbing saya untuk memaafkan dan melepaskan doktrin-doktrin yang salah. Tidak saya sangka, saat itu saya menangis terisak-isak. Rasanya seperti melepaskan beban berat yang telah saya pikul selama puluhan tahun. Setelah sesi pertama selesai, saya pulang dengan perasaan lega namun juga heran—bagaimana bisa saya menangis begitu hebat hanya karena proses ini?
Yang mengejutkan, beberapa hari setelah sesi hipnoterapi, perubahan besar mulai terjadi. Jualan saya tiba-tiba menjadi laris manis. Uang mulai mengalir dengan mudah, dan saya tidak lagi harus meminjam sana-sini setiap bulan. Hingga saat ini, hidup saya jauh lebih stabil secara finansial.
Terima kasih kepada hipnoterapi Evi Puspa, hidup saya berubah 180 derajat. Saya sangat berterima kasih kepada Ibu Evi atas bantuannya. Saya tidak menyangka pikiran atau pendapat yang keliru dan tertanam di pikiran bawah sadar akan hidup dan menjadi perilaku kita selamanya jika tidak diperbaiki. (Rama, 38 Tahun, Bogor)