Selama tujuh bulan terakhir, saya mengalami ketakutan yang sangat besar terhadap mandi. Ketika saya mencoba mandi, pikiran saya selalu dipenuhi dengan ketakutan bahwa kulit tubuh saya akan terkelupas. Meskipun saya berusaha melawan ketakutan tersebut karena suami sering marah dan tidak mau dekat dengan saya karena bau badan, ketakutan itu semakin parah. Ketika saya mandi, perasaan kulit saya seakan terkelupas, dan saya menjerit-jerit ketakutan. Meskipun suami dan anak-anak saya berusaha meyakinkan bahwa tidak terjadi apa-apa, saya tetap merasa marah dan tidak dipahami. Akhirnya, saya berhenti mandi selama tiga bulan, tidak peduli meskipun suami dan anak-anak marah dan menjauh.
Suatu pagi, anak sulung saya menunjukkan sebuah artikel di handphone tentang seorang hipnoterapis wanita dan membacakan informasi tersebut kepada saya. Setelah melihat tekad anak saya dan mendengar kata-katanya, saya akhirnya mengalah dan setuju untuk pergi ke tempat itu. Anak saya membuat janji dan kami berangkat bersama.
Kami bertemu dengan Bu Evi Puspa, seorang hipnoterapis yang tenang dan sangat mendengarkan keluhan saya. Setelah mendengar cerita saya, Bu Evi bertanya apakah saya siap untuk menjalani hipnoterapi. Awalnya saya ragu dan berniat pulang, namun melihat sikap Bu Evi yang begitu tenang dan sabar, saya merasa nyaman dan akhirnya setuju.
Bu Evi meminta anak saya menunggu di ruang tamu sementara saya dibimbing masuk ke ruang terapi. Saat terapi berlangsung, saya mulai merasa lebih tenang, dan ternyata ketakutan saya terhadap mandi berakar pada pengalaman traumatis ketika saya masih berusia 3 tahun. Saya pernah dihukum dengan direndam dalam bak mandi oleh ayah saya, dan perasaan takut itu muncul kembali saat saya dewasa.
Setelah terapi pertama, Bu Evi meminta saya mencoba mandi menggunakan shower di tempatnya. Saya merasa sangat terkejut, karena saya bisa melakukannya tanpa ketakutan. Anak saya yang melihat saya merasa heran dan tertawa bahagia. Melalui terapi, Bu Evi membantu saya menyadari bahwa saya sebenarnya tidak takut dengan air, tetapi takut dengan bak mandi yang mengingatkan saya pada hukuman yang dulu.
Pada pertemuan berikutnya, saya mulai berani mendekati bak mandi di rumah. Lama kelamaan, saya bisa mandi normal, bahkan dua hingga tiga kali sehari. Perasaan bahagia tak bisa saya ungkapkan. Saya merasa bebas dari ketakutan yang selama ini membelenggu saya.
Terima kasih yang tak terhingga kepada Bu Evi Puspa atas bantuannya. Saya merasa sangat bersyukur bisa mengatasi ketakutan ini. Terima kasih juga atas kenang-kenangan handuk yang saya terima. (RH, TangSel)