Saya adalah pria berusia 42 tahun yang beberapa tahun terakhir menghadapi masalah emosional yang serius. Entah kapan tepatnya dimulai, tetapi semakin bertambah usia, saya menjadi lebih temperamental. Sebagai seorang profesional, seharusnya saya bisa mengontrol amarah, tetapi justru semakin mudah tersulut emosi.
Kondisi ini berdampak besar pada hidup saya. Kepala saya sering terasa tegang, otak seperti panas, dan kesehatan pun terganggu. Ketika sakit, saya malah menyalahkan diri sendiri, bahkan sampai membenturkan kepala ke tembok. Puncaknya, di suatu rapat kerja, saya merasa ditekan oleh Senior Vice President dari departemen lain. Usai rapat, saya mendatangi ruangannya dan menantangnya duel di parkiran mobil.
Perilaku agresif ini tak hanya terjadi di kantor. Di rumah, saya menjadi sosok yang ditakuti. Anak dan istri menjaga jarak, sementara saya melampiaskan amarah dengan membanting pintu kamar hingga jebol, menendang kulkas sampai pintunya lepas, bahkan melempar kaca rumah hingga pecah. Hampir setiap minggu saya terlibat perkelahian. Saya merasa tak bisa mengendalikan diri.
Hingga akhirnya, bos saya merekomendasikan hipnoterapi Evi Puspa. Awalnya saya ragu, tetapi setelah bertemu Bu Evi Puspa, saya langsung merasa nyaman. Beliau adalah sosok yang ceria, sering tertawa lepas, dan membuat suasana terasa ringan. Ketegangan yang saya rasakan pun perlahan hilang.
Dalam sesi hipnoterapi pertama, kami menggali akar masalah yang ternyata berasal dari masa kecil saya. Saya menyimpan dendam dan kemarahan terhadap ayah yang meninggalkan keluarga saat saya berusia 7 tahun. Ayah pergi begitu saja tanpa pernah kembali, meninggalkan ibu dan kami bertiga.
Bu Evi membimbing saya dengan sabar. Di sesi ketiga, saya akhirnya mau memaafkan ayah. Itu adalah momen paling emosional dalam hidup saya; saya menangis tersedu-sedu, padahal seumur hidup saya jarang sekali menangis. Setelah tiga sesi terapi, perubahan luar biasa terjadi. Temperamen saya hilang, dan kini saya menjadi lebih penyabar.
Sudah dua tahun sejak saya menjalani hipnoterapi bersama Bu Evi Puspa, dan saya tidak pernah lagi terlibat perkelahian. Hubungan dengan keluarga membaik, dan saya bersyukur atas perubahan ini. Terima kasih, Bu Evi Puspa, telah membantu saya menemukan kedamaian. Kini saya sering bercanda dengan beliau, “Bu, marah saya diumpetin ke mana? Balikin dong!” (DN, 43 Tahun, Jakarta)